Friday, November 4, 2016

Because Of Lady In White

Because Of Lady In White


Malam itu, dua minggu setelah permainan lady in White aku kehilangan segalanya. Sebelumnya aku kehilangan perhatian seseorang dan setelah permainan itu dimulai, ia depresi dan aku kehilangan raganya. Sosok sahabat tak mampu berbuat apa – apa, hanya mengeluarkan kata – kata sampah yang menurutku taka da manfaatnya. Mereka belum tau saja “APA ARTI KEHILANGAN”

----------------------------------------
Sebuah rumah indah, dengan cat putih dan berbagai tanaman gantung yang menghiasi dinding klasik rumah itu. Seorang wanita berjilbab merah keluar dari rumah tersebut. Menyirami setiap tanaman yang hidup agar terlihat hijau dan memikat mata. Tak ayal suara senandung yang keluar dari mulut wanita tersebut menjadi satu – satunya kebisingan yang tercipta.
            Kegiatan ela –wanita pemilik rumah itu- berhenti saat melihat sebuah mobil sedan terparkir anggun di halaman rumahnya yang hijau. Tak ada tamu yang sebrutal ini memarkirkan mobil di halaman rumahnya, kecuali
“Yudha!!” seorang lelaki berwajah oriental dengan jaket kebesaran dan jins belel yang menjadi SWAGnya hari ini.
“hai el, sibuk berkebun nih sekarang?” melangkah masuk mendekati ela, yudha langsung meghempaskan tubuhnya pada kursi empuk di teras rumah ela yang rindang, menikmati semilir angin sejuk yang tercipta oleh berbagai tanaman dan pepohonan yang sengaja ditanam oleh pemilik rumah.
“ada apa kesini yud?” menemani sang tamu, ela ikut duduk di kursi samping tempat yudha berada.
“gak ada sopan sopannya ya sama tamu!” ela mengernyitkan dahi heran
“bukannya dikasi minum, makan, atau cemilan gitu eh malah langsung diintrogasi”
“nah lo, tamu gak tau diri. Parkir mobil sembarangan, duduk gak disuruh eh minta minum” ela berdecak kesal yang hanya dibalas oleh cengiran nakal milik yudha. Pertanda bahwa yudha tau bahwa omelannya hanya candaan yang biasa mereka lontarkan.
“ngapain kesini?” bertanya lagi, namun kali ini ela sudah menyajikan berbagai hal yang diperlukan tamu seperti teh manis, biscuit dan beberapa cemilan khas pagi hari.
“aku khawatir tau el, kemarin waktu kamu telfon kalo terror sampe pembantu kamu tewas tanpa sebab, aku lagi diluar kota. Aku tau kamu shocked dan aku mau hibur kamu” ela tersenyum manis, namun beberapa saat kemudian senyumnya berubah kecut. Entah Karena apa
“gak papa yud, sekarang semuanya sudah kembali normal. Meskipun aku masih merasakan ketakutan lagi setelah itu” tutur ela sambil menyesap teh hijau miliknya.
“aku nginep disini aja ya, jaga – jaga siapa tau terror itu ke sini. Aku mau hajar dia habis – habisan” tatapan yudha berubah serius, mimic wajahnya yang lucu kini berubah menjadi kaku.
“hahaha, memang kamu piker aku cewek apaan? Rumah sendirian bareng sama lelaki bukan mahram. NO yudha BIG NO” ela menolak mentah – mentah tawaran yudha. Hei dia hanya tinggal sendirian dirumah ini.
“kamu pikir aku cowo apaan el? Aku gabakal masuk ke dalem kok, aku Cuma mau jaga diluar. Disini memastikan kamu aman.”
“kamu gak takut Iro marah. Gimanapun juga dia calon Istri kamu yud” yudha terdiam sesaat. Jujur ia lupa kalau statusnya saat ini bukan lagi single, ia sudah mengikat dan terikat oleh seorang wanita pilihan hatinya.
“kamu pulang aja, aku gak kenapa kenapa kok, kalo aku mau aku pasti minta bantuan kamu, dan sahabat kita”
“janji ya” ela hanya menganggukan kepala, dan mengantar kepulangan yudha dari rumahnya.
“yudha, maaf ya” ela mengucap kata itu rilih, dan membalas lambaian tangan yudha dari balik supir kemudi.
Sesaat ela terdiam, memandang kea rah mobil yudha yang sudah menghilang beberapa menit yang lalu.
“seandainya yud” dan ia memejamkan matanya sejenak.

Disebuah café yang terletak diujung jalan manhttam, sahabatku berkumpul. Rasanya rindu kami terbayar saat keceriaan dan tawa bahagia yang terlontar mengisi ruang ruang kebahagiaan hati. Seakan – akan tak membiarkan hati terasa sunyi dan sepi.
“parah banget anaz, lu udah jadi dokter tapi tingkah tetep aja idot”
“aku gak yakin anaz sukses menyelamatkan nyawa”
“yang ada dia malah nambah pasien di kamar mayat”
“gantian dong, jangan aku mulu yang di bully. Yudha tuh baru datang” anaz menunjuk kea rah yudha yang baru saja membukan pintu café, membuat lonceng yang ditempatkan diatas pintu bergerak dan menimbulkan suara khasnya yang indah
Semua yang awalnya menatap kea rah anaz, kini berganti haluan kearah yudha.
“sorry sorry guys, aku telat. Jalanan makin rame aja sama yang namanya motor bikin mobil aku gak bisa lewat aja”
“alah alibi doang lu yud. Meskipun tu jalanan Cuma ada kamu doang lu tetep bakalan ngaret deh” winda, seorang wanita yang duduk disampingku menyahut, membuat kekehan dari semua yang ada disini.
Pemilik café klasik ini sahabat kita, dia reyna. Seorang perempuan dengan darah bisnis yang mengalir deras keturunan sang ayah. Tak heran jika reyna bisa membuka 24 cabang resto dan café di berbagai daerah.
            Oh iya, kenalkan aku ela Apriliyanti, seorang pengacara kasus kasus pemerintah menjadi pekerjaanku sehari – hari. Aku masih berumur 21 tahun. Agak muda memang bagi seorang pengacara. Aku lulus kuliah hanya butuh waktu 3 tahun, dan aku merasa beruntung atas semua ini. Disampingku adalah Noveliant Anaz, seorang mahasiswa Kedokteran yang akan menjalani masa Ko-Ass tahun depan. Anaz lelaki yang memiliki tingkat kehumorisan paling tinggi diantara kami semua, kata “gada anaz garame’ adalah semboyan yang selalu dijunjung tinggi sahabatku ini. Didepan mata memandang ada winda, wanita karier yang bekerja di PT Pertamina. Seperti impiannya dulu, menjadi seorang wanita yang tidak dipandang sebelah mata. Berkarier, berkarya, membuat winda tumbuh menjadi wanita tegas. Dan disamping kananku adalah iro dan Antika. Iro adalah wanita designer handal, cukup duduk dikursi dan membuat sketsa gaun, dan uang akan datang kepadanya. Sama seperti antika, uang akan selalu ada dipihaknya meski antika hanya duduk menekuni laptop dan merangkai kata – kata renyah untuk dibaca ribuan orang. Ya anitika adalah seorang penulis buku
            “eh eh eh, ini udah pada lengkap kan? Sekarang gimana kalo kita mulai topic serius?” reynata atau biasa dipanggil rey memecah keributan yang kami buat.
“kalian semua udah tau kan, kenapa kita semua kumpul? Meluangkan waktu sibuk kita untuk membicarakan masalah pelik disini”
Aku disini dan kau disana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu saat kita akan berjumpa
Saat winda mulai membuka topic serius yang dimaksud reyna, yudha dengan tampang polosnya menyanyikan lagu galau khas orang menjalani Long Distance Relationship.
“yud, jangan rame dong. Kita kan udah setuju bakal serius sama masalah ini” Iro, tunangan yudha dengan lembut menegur yudha yang amat sangat berandalan itu. Aku hanya tersenyum samar
“menurut kalian, apakah kasus pembunuhan pembantu ela termasuk dalam terror?” reyna membuka diskusi kami dengan pertanyaan tentang kejadian beberapa minggu lalu di rumahku. Ya, kejadian yang menewaskan ina –pembantuku-.
“menurutku sih nggak ya. Karena dari hasil otopsi yang aku baca kemaren di rumah ela. Pembantu dia meninggal karena overdosis obat tidur yang dikonsumsinya” yudha berucap, sambil menyesap minuman bersoda yang ada didepannya. Entah milik siapa
“tapi ini terlalu naif. Kalian pikir, seorang pembantu punya kebiasaan menggunakan obat tidur? Kalaupun mbak ina itu selalu mengkonsumsi obat tidur, dia pasti sudah mengetahui dosis yang dia harus konsumsi” kata winda
“tunggu bentar deh” anaz menyela ucapan winda
“mbak ina itu siapa?” dengan polosnya, anaz mengatakan pertanyaan konyol pada situasi yang sudah sangat serius. Membuat dahi teman teman yang lain mengerut, antara kesal dan ingin tertawa.
“plis deh naz, mbak ina itu nama pembantuku” anaz hanya mengangguk dan memakan kentang gorengnya lagi. Aku dan temanku yang lain melengos kasar





Note Saya :

yeaayy, ini adalah drama kelas yang dibuat untuk tugas. karena saya tertarik banget buat jadiin cerita, aku mau rombak dari yang awalnya hanya dialog, ditambah beberapa prosa supaya bisa dinikmati. enjoy  ^,^

0 comments:

Post a Comment

 
;